Posts

Showing posts with the label Australia

A Letter to My Grandchild

Image
Dear future grandchild, Perhaps when you are able to read this letter, I am already in heaven or the transitional place in between heaven and earth (I hope so--mind you, I believe in the Afterlife, and I hope your generation still does). I am writing this letter to tell you of a particular and peculiar time during the course of my life. The year was 2020. I was almost 34 by then, with two kids, yeah... your dad and your auntie (or, your mom and your uncle--depending on to which of my children you belong, dear).  ( https://unsplash.com/photos/iPOzQwvcMLE ) 2020 was a pretty number. It read pretty, at least. But boy.... what that year brought to us! A calamity will sound a bit condescending.  That year, a virus went spiraling down the abysmal well of torture--psychologically and physically.  They said it started in a place called Wuhan in China and it spread uncontrollably all over the world. In some countries, the virus took thousands of death tolls. Italy was the first ...

The 'Perks' of Working from Home with Two Young Kids: Staying Positive in the Face of Covid-19

Image
Ah, the privilege of working in solitude, with zero distractions (except for the social media and video-sharing platform icons displayed temptingly on the navigation bar), and boosted by speedy internet connection. How I miss it dearly! What a privilege working from anywhere with such a peaceful isolation. But here's what I got: When I just got a super clever idea for a revision of my journal article, and my hands and my mind tried to concentrate on coordinating so that the idea got transferred into writing . . . my son came and slapped me with a question, "Ambu, do worms change their skin because they are getting older?" "What????????????" I had no idea of what he was talking about. That's not the kind of question that I could simply answer 'yes' or 'no' because I needed to have scientific justification.  I definitely needed some time to think about the answer. And then... I FORGOT what I was trying to type in.  Oh, NO! My ...

Is PhD REALLY a Lonely Journey?: My "Crowded" Journey

Image
Is PhD really a lonely journey? The answer to that will vary, depending on our perspectives. Being quite spiritual and religious myself, I might for example argue that life in itself is actually a lonely journey.  We were born alone to this world (even those with a twin did not come "together" out of their mother's womb), and we will die a lonely death. But, I am aware of the fact that loneliness has some positive and negative ramifications. Most of the time, it is viewed negatively, and as such bears negative consequences. I recently watched a news report telling about how older people who are lonely tend to die earlier than those who are not. Sad. What about PhD journeys? There is no absolute yes or no answer to that. For me, embarking this journey with two little kids and a husband made me feel like it is actually a crowded journey--mostly in a positive sense. errantscience.com I visualize this journey as one that I venture on a small boat enough for one...

Cara Menghadapi Rasisme

Image
http://www.banderasnews.com/0704/nw-englishonly.htm Judulnya sangat terkesan prosedural, ya?  Padahal tentu tak ada yang prosedural dalam kasus seperti ini.  Apalagi jika mengalami diskriminasi berdasarkan gender, ras, agama, dan lainnya, siapa yang bisa berpikir tentang prosedur?  Yang ada pasti kita terlalu kaget untuk bereaksi. Prosedurnya saya simpan di bagian paling bawah, ya?  Baca terus sampai selesai :) Pengalaman paling pertama mendapat diskriminasi itu saya dapatkan sewaktu di Amerika, tepatnya di sebuah supermarket di New Mexico, sekitar 7 tahun yang lalu.  (Sebenarnya mungkin bukan yang paling pertama, tapi setidaknya yang paling berkesan). Saat itu saya juga terlalu kaget untuk bisa merespons dengan "tepat".  Saya hanya bisa melongo (tak menyadari bahwa saya baru saja mengalami diskriminasi) dan lama setelahnya barulah it downed upon me that I was just being discriminated against my hijab.   Menariknya, sebenarnya orang y...

Memboyong Keluarga Kuliah di Luar Negeri: Bagian 3 (Looking for Home Sweet Home!)

Image
OSHC sudah di tangan. Anak sudah terdaftar di sekolah. Masih ada lagikah yang harus dilakukan? Banyak, hiks. Tapi, tenang. Sisanya ya tetek bengek  seperti tiket, bungkus-bungkus barang, dan seterusnya. Selain persiapan keberangkatan yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat logistik, ada satu bagian dari persiapan ini yang ingin saya garis bawahi, yaitu: RUMAH! PINDAHAN Rumah juga adalah salah satu alasan yang membuat banyak pelajar berkeluarga memutuskan untuk berangkat sendirian dulu. Kenapa? Karena . . . mendapatkan rumah sewa di Australia ini susahnya luar biasa, kawan! Sesusah apa, sih ? Sekedar ilustrasi, lamaran saya EMPAT kali ditolak oleh agen penyewa properti, atau istilah di sini real estate agents . Saya sih CUMA empat kali! Teman-teman dan kenalan saya bahkan ada yang sampai hampir sepuluh kali! Apa yang membuatnya susah? 1. Persaingan yang ketat untuk mendapatkan rumah sewa Ya, di beberapa daerah di Australia, pertumbuhan pen...

Memboyong Keluarga Kuliah di Luar Negeri: Bagian 2 (Sekolah Anak!!)

Image
OSHC atau Overseas Student Health Cover untuk keluarga sudah terpenuhi. Selanjutnya apa? Bagi yang akan memboyong anak-anak dengan usia sekolah (5 tahun standar Tasmania dan 6 tahun standar beberapa negara bagian Australia lainnya), maka sekolah anak menjadi prioritas . Sekolah anak juga menjadi alasan banyak diantara penerima beasiswa memilih untuk berangkat sendirian terlebih dulu, baru memboyong keluarganya. Selain itu, beberapa pemberi beasiswa seperti AAS dan Fulbright mensyaratkan masa tunggu minimal 6 bulan bagi penerima beasiswa untuk membawa keluarga serta. Jadi, masuk akal mengapa harus ada masa tunggu ini. Karena... kita harus memastikan bahwa semuanya siap untuk keluarga kita pada saat mereka datang. Untuk Australia, syarat membuat visa untuk anak yang sudah usia masuk sekolah adalah anak sudah terdaftar di sekolah!  Sekedar berbagi pengalaman pribadi, saya merasa beruntung karena saya bisa memboyong keluarga (suami dan anak-anak) secara langsung tanpa...

Memboyong Keluarga Kuliah di Luar Negeri: Bagian 1

Image
Postingan kali ini akan membahas tentang apa saja yang harus dipersiapkan untuk membawa keluarga ikut serta kita kuliah di luar negeri, khususnya Australia. (Persyaratan tiap negara berbeda, ya?) Dari semua persiapan keberangkatan S3 di Australia, membawa keluarga adalah yang paling ribet ! Jujur saja.  Dulu, sewaktu berangkat ke Amerika, walaupun sudah menikah, saya berangkat sendirian. Tak ada beban, dan cukup mengurusi diri sendiri saja.  Tapi, sekarang? Buntutnya sudah ada dua, kalau kata orang Sunda. Ditambah satu kepala. Jadi, ribetnya lumayaan.... Saya akan bagi postingan tentang memboyong keluarga kuliah di luar negeri ini ke dalam beberapa bagian.  Di bagian ini, saya akan menuliskan tentang syarat Dependent  Visa atau visa anak dan suami untuk ke Australia.  Terus terang, persyaratannya lumayan ribet dan menyita waktu. Tapi, semua worth it pada akhirnya! Untuk melamar visa saya dan keluarga, saya dibantu oleh IDP, salah...

Menjadi Emak-Emak PhD

Kali ini tulisannya bernada "curhat." Banyak yang bertanya bagaimana caranya bisa kuliah S3 di luar negeri dengan dua anak (dan satu suami)? :D Bagaimana, ya? Rasanya seperti permen yang sudah tak lagi populer saat ini: Campur aduk, tapi lebih dominan manisnya dibanding asamnya :) Sebagai emak-emak, yang paling utama bagi saya adalah anak-anak dan keluarga. Itu sebabnya butuh waktu lama bagi saya (lama tidaknya sebenarnya relatif, ya?) untuk memutuskan saatnya saya kembali ke bangku kuliah. Pada saat melamar CPNS dosen 2013 lalu, saya sedang hamil. Saat lulus CPNS, saya baru melahirkan. Setelah melahirkan, saya menjalani profesi saya sebagai seorang dosen. Itu saja sudah berat, mengingat anak masih sangat kecil. Saya dan suami juga tinggal "sendirian" di Bandung, tanpa saudara dekat. Orang tua saya di Garut, dan saudara terdekat, terpisahkan jarak beberapa jam--tidak jauh sebenarnya, tapi mengingat Bandung adalah pusatnya kemacetan, dekatpun terasa sangat ja...

Sebaik-baiknya pos-el adalah pos-el yang dikirim pada yang tertuju

Image
Sebaik-baiknya pos-el adalah pos-el yang dikirim pada yang tertuju Judul ini betul sekali--terilhami dari pepatah lama: "Sebaik-baiknya skripsi/tesis/disertasi adalah skripsi/tesis/disertasi" yang selesai. :) Jadi, jangan simpan pos-elnya di dalam kotak draft , ya? Sunting dan kirim! Baiklah. Untuk tulisan kali ini nadanya akan lebih bersifat teknis karena saya ingin berbagi cara menulis pos-el pada dosen calon pembimbing S3 di kampus luar negeri. Pertama dan utama : Pos-el ditulis dalam bahasa Inggris . Di sinilah kekhawatiran kita sebagai orang yang bukan penutur jati bahasa Inggris muncul. Yang ingin saya tekankan adalah: Jangankan kita, orang-orang yang merupakan penutur jati bahasa Inggris sendiri pun memiliki kekhawatiran sendiri dalam konteks ini. Kok bisa? Karena, bukan hanya bahasa yang menjadi soal--ketepatan tata bahasa dan penggunaan kata serta tanda baca. Namun, mereka umumnya khawatir dengan  etika/norma kesopanan dan isi  dari pos-elnya. Apa yang haru...

Menyusuri Dunia Maya untuk Mencari Dosen Pembimbing

Alhamdulillaah , berkat respons positif dari rekan-rekan atas tulisan yang pertama, saya jadi termotivasi untuk menulis lagi :) Melanjutkan tulisan yang kemarin, kali ini saya akan membahas pengalaman saya mencari calon dosen pembimbing S3. Hm... baiklah. Seperti yang saya singgung sebelumnya, saya tak seberuntung beberapa rekan saya yang diperkenalkan langsung pada calon pembimbingnya oleh dosen senior/sejawat. Tentu proses perkenalan seperti ini sedikit mempersingkat perjalanan panjang meraih beasiswa luar negeri. Tapi, saya tak patah arang. ( Ciee... ) Bermodalkan kenekatan tingkat dewa, saya berusaha mencari sendiri dosen pembimbing S3 saya. Kelebihan dari proses ini adalah kepuasan yang luar biasa saat kita bisa berkenalan dengan dosen dari universitas lain dengan ilmu yang mumpuni di bidang yang kita minati. Semuanya dilakukan sendiri, tanpa bantuan siapapun. Nikmat, sungguh! Perjalananan panjang pun dimulai. Seperti dalam memulai perjalanan dalam arti harfiah, kita h...

Kuliah (Lagi): Mencari Sebongkah Beasiswa

Baiklah, bismillaahirrahmaanirrahiim ... Ini adalah tulisan pertama sejak vakum dari tahun 2013 . Ke mana saja? Ke mana-mana, hehe... Banyak yang telah terjadi selama enam tahun ini: Punya anak ( dua lagi! ), lolos CPNS dosen, mengajar, meneliti, dan akhirnya mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu lagi! Katanya banyak? Iya, banyak sekali. Namun, apa daya, tulisan tak sampai. Untuk tulisan pertama sejak 'mati suri' ini, saya akan membagikan perjalanan saya dalam meraih kesempatan untuk menimba ilmu lagi di negeri kangguru. Semoga dapat sedikit menjawab pertanyaan dari rekan-rekan yang sedang berjuang juga meraih beasiswa S3. Semangat, teman! Pepatah lama "Banyak jalan menuju Roma" masih berlaku ternyata, Bang Rhoma! Juga tentu pepatah klise, "Di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan." Benar adanya. Ya, jalur yang saya tempuh untuk mendapat beasiswa S3 di Australia ini berbeda dengan yang saya lalui untuk kuliah S2 di Amerika. Dulu, tanpa ...