Posts

Memboyong Keluarga Kuliah di Luar Negeri: Bagian 2 (Sekolah Anak!!)

Image
OSHC atau Overseas Student Health Cover untuk keluarga sudah terpenuhi. Selanjutnya apa? Bagi yang akan memboyong anak-anak dengan usia sekolah (5 tahun standar Tasmania dan 6 tahun standar beberapa negara bagian Australia lainnya), maka sekolah anak menjadi prioritas . Sekolah anak juga menjadi alasan banyak diantara penerima beasiswa memilih untuk berangkat sendirian terlebih dulu, baru memboyong keluarganya. Selain itu, beberapa pemberi beasiswa seperti AAS dan Fulbright mensyaratkan masa tunggu minimal 6 bulan bagi penerima beasiswa untuk membawa keluarga serta. Jadi, masuk akal mengapa harus ada masa tunggu ini. Karena... kita harus memastikan bahwa semuanya siap untuk keluarga kita pada saat mereka datang. Untuk Australia, syarat membuat visa untuk anak yang sudah usia masuk sekolah adalah anak sudah terdaftar di sekolah!  Sekedar berbagi pengalaman pribadi, saya merasa beruntung karena saya bisa memboyong keluarga (suami dan anak-anak) secara langsung tanpa...

Memboyong Keluarga Kuliah di Luar Negeri: Bagian 1

Image
Postingan kali ini akan membahas tentang apa saja yang harus dipersiapkan untuk membawa keluarga ikut serta kita kuliah di luar negeri, khususnya Australia. (Persyaratan tiap negara berbeda, ya?) Dari semua persiapan keberangkatan S3 di Australia, membawa keluarga adalah yang paling ribet ! Jujur saja.  Dulu, sewaktu berangkat ke Amerika, walaupun sudah menikah, saya berangkat sendirian. Tak ada beban, dan cukup mengurusi diri sendiri saja.  Tapi, sekarang? Buntutnya sudah ada dua, kalau kata orang Sunda. Ditambah satu kepala. Jadi, ribetnya lumayaan.... Saya akan bagi postingan tentang memboyong keluarga kuliah di luar negeri ini ke dalam beberapa bagian.  Di bagian ini, saya akan menuliskan tentang syarat Dependent  Visa atau visa anak dan suami untuk ke Australia.  Terus terang, persyaratannya lumayan ribet dan menyita waktu. Tapi, semua worth it pada akhirnya! Untuk melamar visa saya dan keluarga, saya dibantu oleh IDP, salah...

Beasiswa kan gratis, kok masih butuh modal, sih?

Jangan salah, ya, untuk mendapatkan beasiswa kita harus mengeluarkan modal dalam bentuk rupiah atau dolar :D. Niat yang kuat, tekad yang bulat, semangat yang tinggi, doa dari orang tua, dan restu dari suami/istri (dan anak) memang sangat penting, tapi tidaklah cukup. Butuh uang untuk apa? Kan beasiswa gratis? Untuk menjemputnya, tentu saja. Beasiswa kan ada persyaratannya. Nah, untuk memenuhi persyaratannya ini kita butuh modal yang lumayan, tergantung kondisi keuangan kita. Okay! Yang paling pertama adalah mengeluarkan uang untuk mengikuti tes kemahiran berbahasa Inggris atau bahasa lainnya yang disyaratkan oleh beasiswa (tergantung negara tujuan). Tapi, biasanya bahasa Inggris yang paling umum. Berapa duit , sih ? TERGANTUNG. Tergantung jenis tes yang dipersyaratkan . Untuk beberapa beasiswa seperti AAS, Fulbright, Erasmus Mundus, dan lainnya ITP TOEFL cukup. Apa itu ITP TOEFL? Singkatan dari institutional TOEFL , tes ini hanya terdiri dari tiga jenis soal: Listening ,...

Malaikat dari Texas (Si Iteung Saba Amerika, Bag. 1)

Image
Tulisan ini saya dedikasikan untuk Teteh sekeluarga yang telah menjadi lebih dari keluarga. Mungkin judulnya agak ekstrem. Malaikat turunnya dari langit, kalee ? Tentu saja. Namun, saya percaya bahwa Allah menurunkan malaikat ke dunia ini untuk membantu manusia dalam berbagai bentuk dan rupa. Salah satunya, ya, dalam rupa manusia. Pelangi dan hujan yang turun dari langit Sebenarnya sudah sejak lama sekali saya ingin menuliskan pengalaman yang sangat berharga dan menakjubkan ini. Tapi, apa daya, sibuk dan malas menjadi alasan. Cerita ini berhubungan dengan pengalaman saya dulu menjadi "Si Iteung Saba Amerika" (tunggu tulisan yang ini, ya?). Cerita yang takkan pernah bosan saya bagikan pada siapapun untuk menunjukkan bahwa orang baik itu bertebaran di muka bumi. Jadi, tahun 2010 yang lalu, si Iteung dari Garut ini saba Amerika. Saya yang waktu itu tak pernah pergi bahkan ke negeri tetangga sekalipun, seperti Malaysia dan Singapura, untuk pertama kalinya pergi ke...

Menjadi Emak-Emak PhD

Kali ini tulisannya bernada "curhat." Banyak yang bertanya bagaimana caranya bisa kuliah S3 di luar negeri dengan dua anak (dan satu suami)? :D Bagaimana, ya? Rasanya seperti permen yang sudah tak lagi populer saat ini: Campur aduk, tapi lebih dominan manisnya dibanding asamnya :) Sebagai emak-emak, yang paling utama bagi saya adalah anak-anak dan keluarga. Itu sebabnya butuh waktu lama bagi saya (lama tidaknya sebenarnya relatif, ya?) untuk memutuskan saatnya saya kembali ke bangku kuliah. Pada saat melamar CPNS dosen 2013 lalu, saya sedang hamil. Saat lulus CPNS, saya baru melahirkan. Setelah melahirkan, saya menjalani profesi saya sebagai seorang dosen. Itu saja sudah berat, mengingat anak masih sangat kecil. Saya dan suami juga tinggal "sendirian" di Bandung, tanpa saudara dekat. Orang tua saya di Garut, dan saudara terdekat, terpisahkan jarak beberapa jam--tidak jauh sebenarnya, tapi mengingat Bandung adalah pusatnya kemacetan, dekatpun terasa sangat ja...

Saat Pos-el Tak Kunjung Berbalas

Kemarin semangat menulis sedikit hilang. Tapi, berkat seekor wallaby yang muncul pagi-pagi di depan gedung di kampus, saya jadi bersemangat lagi. Sayang kamera tak di tangan, jadi tak sempat memfoto wallaby yang tersesat ke dalam kampus. Atau saya yang tersesat ke tempat yang dulunya adalah rumah bagi sang wallaby? Hm... Baiklah! Kembali pada kelanjutan topik seputar mengirim pos-el pada calon dosen pembimbing. Setelah pos-el terkirim pada dosen bidikan kita, pertanyaannya adalah berapa lama biasanya dosen tersebut akan membalas pos-el kita ? Tak ada jawaban pasti. Mungkin dibalas cepat , mungkin juga dibalas dengan lambat , atau tidak dibalas sama sekali . Jangan patah arang, ya? Dari total tiga pos-el yang saya kirim, satu tak dibalas sama sekali. Saya tidak memasukkannya ke dalam hati. Malah, saya sudah menduga ini akan terjadi. Mengapa? Ini dia beberapa alasan dosen tak menjawab pos-el kita: Pos-el kita masuk kotak 'spam', dan dosen yang bersangkutan tidak...

Sebaik-baiknya pos-el adalah pos-el yang dikirim pada yang tertuju

Image
Sebaik-baiknya pos-el adalah pos-el yang dikirim pada yang tertuju Judul ini betul sekali--terilhami dari pepatah lama: "Sebaik-baiknya skripsi/tesis/disertasi adalah skripsi/tesis/disertasi" yang selesai. :) Jadi, jangan simpan pos-elnya di dalam kotak draft , ya? Sunting dan kirim! Baiklah. Untuk tulisan kali ini nadanya akan lebih bersifat teknis karena saya ingin berbagi cara menulis pos-el pada dosen calon pembimbing S3 di kampus luar negeri. Pertama dan utama : Pos-el ditulis dalam bahasa Inggris . Di sinilah kekhawatiran kita sebagai orang yang bukan penutur jati bahasa Inggris muncul. Yang ingin saya tekankan adalah: Jangankan kita, orang-orang yang merupakan penutur jati bahasa Inggris sendiri pun memiliki kekhawatiran sendiri dalam konteks ini. Kok bisa? Karena, bukan hanya bahasa yang menjadi soal--ketepatan tata bahasa dan penggunaan kata serta tanda baca. Namun, mereka umumnya khawatir dengan  etika/norma kesopanan dan isi  dari pos-elnya. Apa yang haru...

Menyusuri Dunia Maya untuk Mencari Dosen Pembimbing

Alhamdulillaah , berkat respons positif dari rekan-rekan atas tulisan yang pertama, saya jadi termotivasi untuk menulis lagi :) Melanjutkan tulisan yang kemarin, kali ini saya akan membahas pengalaman saya mencari calon dosen pembimbing S3. Hm... baiklah. Seperti yang saya singgung sebelumnya, saya tak seberuntung beberapa rekan saya yang diperkenalkan langsung pada calon pembimbingnya oleh dosen senior/sejawat. Tentu proses perkenalan seperti ini sedikit mempersingkat perjalanan panjang meraih beasiswa luar negeri. Tapi, saya tak patah arang. ( Ciee... ) Bermodalkan kenekatan tingkat dewa, saya berusaha mencari sendiri dosen pembimbing S3 saya. Kelebihan dari proses ini adalah kepuasan yang luar biasa saat kita bisa berkenalan dengan dosen dari universitas lain dengan ilmu yang mumpuni di bidang yang kita minati. Semuanya dilakukan sendiri, tanpa bantuan siapapun. Nikmat, sungguh! Perjalananan panjang pun dimulai. Seperti dalam memulai perjalanan dalam arti harfiah, kita h...

Kuliah (Lagi): Mencari Sebongkah Beasiswa

Baiklah, bismillaahirrahmaanirrahiim ... Ini adalah tulisan pertama sejak vakum dari tahun 2013 . Ke mana saja? Ke mana-mana, hehe... Banyak yang telah terjadi selama enam tahun ini: Punya anak ( dua lagi! ), lolos CPNS dosen, mengajar, meneliti, dan akhirnya mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu lagi! Katanya banyak? Iya, banyak sekali. Namun, apa daya, tulisan tak sampai. Untuk tulisan pertama sejak 'mati suri' ini, saya akan membagikan perjalanan saya dalam meraih kesempatan untuk menimba ilmu lagi di negeri kangguru. Semoga dapat sedikit menjawab pertanyaan dari rekan-rekan yang sedang berjuang juga meraih beasiswa S3. Semangat, teman! Pepatah lama "Banyak jalan menuju Roma" masih berlaku ternyata, Bang Rhoma! Juga tentu pepatah klise, "Di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan." Benar adanya. Ya, jalur yang saya tempuh untuk mendapat beasiswa S3 di Australia ini berbeda dengan yang saya lalui untuk kuliah S2 di Amerika. Dulu, tanpa ...

My Thoughts on Today's Accident

Today, death has taken its toll on a student of Geography Education, Indonesia University of Education, Erlan Ardiansyah (May he rest in peace). He was riding a motorcycle, campus-bound. A witness explained that he was trying to overtake a car when suddenly –or maybe not so sudden, as I fairly sure that in a busy street like that, cars will not just turn suddenly in a certain direction—a water transport truck headed on his direction. The two vehicles crashed, and the student fell under the truck and got crushed by the huge wheels of the truck. He died on the way to the hospital, according to the news, though two of my friends who by chance passed the location told me two different stories: one, he died on the spot; the other, he showed bodily movements while still lying on the ground. But, what angers me is the fact that his body was left lying on the street for quite a while, waiting for an ambulance to take it to the hospital. I am aware that traffic jam might be the main cause...