Posts

Kebakaran Hutan dan Lahan Australia dalam Puisi

Image
(Sumber: 7news.com.au) Tempo hari, saya memberanikan diri mengikuti ajang perlombaan Bahasa Indonesia yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pemuda Indonesia-Australia atau AIYA (Australian-Indonesian Youth Association).  Perlombaan tersebut bernama National Australia-Indonesia Awards atau disingkat manis menjadi NAILA. Ingin tahu lebih banyak tentang NAILA?  Silakan kunjungi halaman ini .  Jika ingin melihat saya ( penting, ya? :D) di laman ini, kunjungi tautan ini .  Tema yang diangkat oleh perlombaan NAILA kali ini adalah lingkungan.  Perlombaan ini menarik dan unik bukan hanya karena pesertanya 90% adalah orang Australia yang pintar berbahasa Indonesia, tapi juga karena mekanisme perlombaannya.  Misalnya, untuk mengikuti lomba, peserta harus mengunggah video dengan editing seminimal mungkin.  Peserta juga diberi kebebasan untuk mengekpresikan kreativitas mereka dalam menanggapi tema yang dipilih oleh NAILA. Awalnya saya terpikir untuk berpida...

Satu Beasiswa untuk Pengeluaran Berjamaah (Berhemat Bagian 1)

Image
Photo by  Steve Johnson  on  Unsplash Judul ini pas sekali bagi mereka yang bertanya-tanya, cukupkah beasiswa untuk satu orang saja membiayai seluruh keluarga? Jawabannya CUKUP-CUKUP saja, selama kita pintar mengatur keuangan. Perlu digarisbawahi, beasiswa kampus seperti yang saya peroleh ini tidak memberikan bantuan untuk pasangan dan anak, walaupun jumlahnya agak sedikit lebih besar ( nggak ngaruh, sungguh! ) dibanding beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Indonesia.  Jadi, harus benar-benar pintar mengatur uang dan... harus percaya bahwa ada yang Maha Mengatur yang jauh lebih tahu kebutuhan kita.  Jadi, jangan pernah takut tidak cukup! Saya akan pecah pengeluaran bulanan di sini ke dalam beberapa bagian. Pengeluaran yang paling besar tentu adalah sewa rumah, apalagi kalau bawa keluarga.  Jika berangkat sendirian, kita bisa tinggal bareng-bareng mahasiswa lain.  Jadi, biaya sewa rumahnya bisa dibagi beberapa orang.  Ringan, kan, j...

Cara Menghadapi Rasisme

Image
http://www.banderasnews.com/0704/nw-englishonly.htm Judulnya sangat terkesan prosedural, ya?  Padahal tentu tak ada yang prosedural dalam kasus seperti ini.  Apalagi jika mengalami diskriminasi berdasarkan gender, ras, agama, dan lainnya, siapa yang bisa berpikir tentang prosedur?  Yang ada pasti kita terlalu kaget untuk bereaksi. Prosedurnya saya simpan di bagian paling bawah, ya?  Baca terus sampai selesai :) Pengalaman paling pertama mendapat diskriminasi itu saya dapatkan sewaktu di Amerika, tepatnya di sebuah supermarket di New Mexico, sekitar 7 tahun yang lalu.  (Sebenarnya mungkin bukan yang paling pertama, tapi setidaknya yang paling berkesan). Saat itu saya juga terlalu kaget untuk bisa merespons dengan "tepat".  Saya hanya bisa melongo (tak menyadari bahwa saya baru saja mengalami diskriminasi) dan lama setelahnya barulah it downed upon me that I was just being discriminated against my hijab.   Menariknya, sebenarnya orang y...

A Letter to My Fellow PhDs

Dear fellow PhDs, Please, don't put too much pressure on yourself.  Take a break when you feel you need to. There are days when I am so fired up to write an article, read a couple of articles, do more reading on chapters of a book, and so on and so forth.  In other words, there are days when I feel that pressure is good.  I enjoy it!  These days remind me of what many psychologists said that stress is a positive thing as long as we can manage it well.  Stress pumps our heart and motivates us to find a way out, to get it over. But, there are also days when I am not particularly keen on doing anything related to my PhD.  When I feel the pressure is overbearing, too much, and I don't like it.  When I feel I can't manage the stress, and I need a break. Is it normal? Totally! Yeah, I do feel guilty a little bit because I don't read or write as much as I wanted. But, I tend to see it as a highly deserved break. Everyone needs a break, PhD student...

Kesempatan dan Keberhasilan: Gagal Itu Benar-Benar Biasa

Image
Setiap keberhasilan yang diraih tidak pernah lepas dari keberanian untuk mengambil setiap kesempatan yang Allah berikan. Jangan salahkan nasib jika kita tidak "seberhasil" yang kita inginkan. Mungkin kita sering melewatkan kesempatan yang datang? Saya berbicara seperti ini bukan karena merasa diri ini berhasil atau istilah kerennya "sukses". Keberhasilan itu adalah sesuatu yang relatif, dan sebagai manusia sudah fitrahnya kita tidak akan pernah merasa "cukup berhasil". Pasti akan ada banyak hal yang ingin kita raih lagi dalam hidup ini. Namun, sebagai manusia saya tidak ingin kufur nikmat. Saya betul-betul mensyukuri keberhasilan apapun yang telah saya raih, sekecil apapun itu. Besar atau kecilnya keberhasilan baiknya cukup kita yang mengukur agar tak lupa bersyukur. Saya juga bersyukur sekali memiliki pasangan yang selalu berkata, "Ayo, ambil aja." "Ikut aja." "Coba aja." setiap kali saya bercerita padanya bah...

Memboyong Keluarga Kuliah di Luar Negeri: Bagian 3 (Looking for Home Sweet Home!)

Image
OSHC sudah di tangan. Anak sudah terdaftar di sekolah. Masih ada lagikah yang harus dilakukan? Banyak, hiks. Tapi, tenang. Sisanya ya tetek bengek  seperti tiket, bungkus-bungkus barang, dan seterusnya. Selain persiapan keberangkatan yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat logistik, ada satu bagian dari persiapan ini yang ingin saya garis bawahi, yaitu: RUMAH! PINDAHAN Rumah juga adalah salah satu alasan yang membuat banyak pelajar berkeluarga memutuskan untuk berangkat sendirian dulu. Kenapa? Karena . . . mendapatkan rumah sewa di Australia ini susahnya luar biasa, kawan! Sesusah apa, sih ? Sekedar ilustrasi, lamaran saya EMPAT kali ditolak oleh agen penyewa properti, atau istilah di sini real estate agents . Saya sih CUMA empat kali! Teman-teman dan kenalan saya bahkan ada yang sampai hampir sepuluh kali! Apa yang membuatnya susah? 1. Persaingan yang ketat untuk mendapatkan rumah sewa Ya, di beberapa daerah di Australia, pertumbuhan pen...

Memboyong Keluarga Kuliah di Luar Negeri: Bagian 2 (Sekolah Anak!!)

Image
OSHC atau Overseas Student Health Cover untuk keluarga sudah terpenuhi. Selanjutnya apa? Bagi yang akan memboyong anak-anak dengan usia sekolah (5 tahun standar Tasmania dan 6 tahun standar beberapa negara bagian Australia lainnya), maka sekolah anak menjadi prioritas . Sekolah anak juga menjadi alasan banyak diantara penerima beasiswa memilih untuk berangkat sendirian terlebih dulu, baru memboyong keluarganya. Selain itu, beberapa pemberi beasiswa seperti AAS dan Fulbright mensyaratkan masa tunggu minimal 6 bulan bagi penerima beasiswa untuk membawa keluarga serta. Jadi, masuk akal mengapa harus ada masa tunggu ini. Karena... kita harus memastikan bahwa semuanya siap untuk keluarga kita pada saat mereka datang. Untuk Australia, syarat membuat visa untuk anak yang sudah usia masuk sekolah adalah anak sudah terdaftar di sekolah!  Sekedar berbagi pengalaman pribadi, saya merasa beruntung karena saya bisa memboyong keluarga (suami dan anak-anak) secara langsung tanpa...

Memboyong Keluarga Kuliah di Luar Negeri: Bagian 1

Image
Postingan kali ini akan membahas tentang apa saja yang harus dipersiapkan untuk membawa keluarga ikut serta kita kuliah di luar negeri, khususnya Australia. (Persyaratan tiap negara berbeda, ya?) Dari semua persiapan keberangkatan S3 di Australia, membawa keluarga adalah yang paling ribet ! Jujur saja.  Dulu, sewaktu berangkat ke Amerika, walaupun sudah menikah, saya berangkat sendirian. Tak ada beban, dan cukup mengurusi diri sendiri saja.  Tapi, sekarang? Buntutnya sudah ada dua, kalau kata orang Sunda. Ditambah satu kepala. Jadi, ribetnya lumayaan.... Saya akan bagi postingan tentang memboyong keluarga kuliah di luar negeri ini ke dalam beberapa bagian.  Di bagian ini, saya akan menuliskan tentang syarat Dependent  Visa atau visa anak dan suami untuk ke Australia.  Terus terang, persyaratannya lumayan ribet dan menyita waktu. Tapi, semua worth it pada akhirnya! Untuk melamar visa saya dan keluarga, saya dibantu oleh IDP, salah...

Beasiswa kan gratis, kok masih butuh modal, sih?

Jangan salah, ya, untuk mendapatkan beasiswa kita harus mengeluarkan modal dalam bentuk rupiah atau dolar :D. Niat yang kuat, tekad yang bulat, semangat yang tinggi, doa dari orang tua, dan restu dari suami/istri (dan anak) memang sangat penting, tapi tidaklah cukup. Butuh uang untuk apa? Kan beasiswa gratis? Untuk menjemputnya, tentu saja. Beasiswa kan ada persyaratannya. Nah, untuk memenuhi persyaratannya ini kita butuh modal yang lumayan, tergantung kondisi keuangan kita. Okay! Yang paling pertama adalah mengeluarkan uang untuk mengikuti tes kemahiran berbahasa Inggris atau bahasa lainnya yang disyaratkan oleh beasiswa (tergantung negara tujuan). Tapi, biasanya bahasa Inggris yang paling umum. Berapa duit , sih ? TERGANTUNG. Tergantung jenis tes yang dipersyaratkan . Untuk beberapa beasiswa seperti AAS, Fulbright, Erasmus Mundus, dan lainnya ITP TOEFL cukup. Apa itu ITP TOEFL? Singkatan dari institutional TOEFL , tes ini hanya terdiri dari tiga jenis soal: Listening ,...

Malaikat dari Texas (Si Iteung Saba Amerika, Bag. 1)

Image
Tulisan ini saya dedikasikan untuk Teteh sekeluarga yang telah menjadi lebih dari keluarga. Mungkin judulnya agak ekstrem. Malaikat turunnya dari langit, kalee ? Tentu saja. Namun, saya percaya bahwa Allah menurunkan malaikat ke dunia ini untuk membantu manusia dalam berbagai bentuk dan rupa. Salah satunya, ya, dalam rupa manusia. Pelangi dan hujan yang turun dari langit Sebenarnya sudah sejak lama sekali saya ingin menuliskan pengalaman yang sangat berharga dan menakjubkan ini. Tapi, apa daya, sibuk dan malas menjadi alasan. Cerita ini berhubungan dengan pengalaman saya dulu menjadi "Si Iteung Saba Amerika" (tunggu tulisan yang ini, ya?). Cerita yang takkan pernah bosan saya bagikan pada siapapun untuk menunjukkan bahwa orang baik itu bertebaran di muka bumi. Jadi, tahun 2010 yang lalu, si Iteung dari Garut ini saba Amerika. Saya yang waktu itu tak pernah pergi bahkan ke negeri tetangga sekalipun, seperti Malaysia dan Singapura, untuk pertama kalinya pergi ke...